Jumat, 20 Mei 2011

DISTORSI NUBUAT YOHANES

YESUS NAIK KELEDAI  

Konon, ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" Ayat selanjutnya dikutip di bawah ini:   
Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: "Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai." (Yohanes 12:14-15)  
Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia. (Yohanes 12:16)  
Dijelaskan Yohanes dalam kutipan di atas, bahwa naiknya Yesus di atas seekor keledai merupakan pemenuhan atas nubuat Perjanjian Lama. Benarkah demikian?   

Berbeda dengan
Matius yang menyuguhkan dua ekor keledai dalam narasinya, Yohanes tampaknya lebih menguasai gaya bahasa paralelisme Ibrani sehingga ia tidak perlu menciptakan dua ekor keledai dalam narasinya, karena ayat sebenarnya dalam Kitab Zakharia hanya berbicara mengenai seekor keledai. Berikut teks asli dari Zakharia:
9:9. Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina, seekor keledai jantan, seekor anak keledai.**
9:10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi. 
Sebagaimana diketahui, paralelisme Ibrani bisa dipahami sebagai pengulangan gagasan yang sama dalam kata-kata yang berbeda, dan sebagai satu keseimbangan dari pelbagai gagasan, dimana pemikiran dalam satu baris ditinggikan, dibandingkan, atau ditekankan dengan pemikiran yang paralel dalam baris selanjutnya. Dengan demikian, maka frasa "seekor keledai jantan, seekor anak keledai" merupakan paralelisme Ibrani untuk penyebutan awal "seekor keledai betina" (Harvey DW [1971]; Kee HC [1971]; Fenton JC [1973]).       

Namun demikian, apakah kutipan Zakharia di atas cukup sepesifik untuk diterapkan kepada Yesus yang konon menunggang seekor keledai ketika memasuki Yerusalem? Kita bisa membayangkan ada ribuan orang yang telah memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, dan tidak ada alasan untuk menerapkan keterangan Zakharia tersebut hanya untuk Yesus seorang!    

Lebih jauh, ayat selanjutnya dalam
Zakharia 9:10 di atas sama sekali tidak cocok diterapkan kepada Yesus, oleh karena Yesus selalu dianiaya oleh bangsa Israel hingga ia harus bersembunyi dari satu tempat ke tempat lainnya. Singkatnya, Yesus tidak pernah memapankan kekuasaan dalam bentuk apapun di tanah Israel!   

Jelaslah, bahwa apa yang disuguhkan Yohanes tentang dugaan pemenuhan nubuat di atas, tidak lain adalah sebuah
distorsi pesan yang sangat jauh menyimpang!     

Keterangan:
** Diterjemahkan dari New Rivised Standard Version & New American Bible.   

Catatan:

Sebetulnya persoalan "keledai Yesus" ini persoalan yang sederhana sekali. Perhatikan baik-baik pernyataan Yesus dalam dua kitab berbeda yang kontradiktif berikut ini:  

VERSI MARKUS:  
"Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini." (Markus 11:2-3)
VERSI MATIUS:  
"Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." (Matius 21:2-3)
Menyolok sekali perbedaan "keledai" di antara Markus dan Matius di atas. Manakah dari kedua "pernyataan Yesus" di atas yang benar? Salah satu dari keduanya PASTI salah!  
Perbedaan keledai di atas, lebih disebabkan oleh ketidakmampuan Matius dalam memahami paralelisme Ibrani dalam Zakharia 9:9-10, yang menduga ada dua ekor keledai. Padahal, keledai yang dimaksud dalam Zakharia tersebut sebenarnya ada satu.  

Dalam kasus ini, mungkin saja Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, akan tetapi, hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemenuhan nubuat Zakharia 9:9-10. Lebih jauh, keledai yang dimaksud Zakharia adalah seekor keledai induk, sedangkan keledai yang ditunggangi Yesus adalah seekor anak keledai (kecuali laporan Matius: keduanya). Karenanya, Markus tidak perlu menghubungkan naiknya Yesus ke atas seekor keledai ini sebagai hal pemenuhan nubuat Zakharia. Menunggang seekor keledai di tanah Israel pada masa itu adalah hal biasa bagi kebanyakan orang Israel.
Dengan demikian, maka pernyataan Yesus dalam Markuslah yang bisa dianggap sebagai "orisinal".

Oleh karenanya, bisa dipahami, para sarjana alkitabiah menjadikan
Markus (atau mungkin proto Markus) sebagai salah satu sumber penulisan kitab Matius dan Lukas, mungkin juga Yohanes (Jerald F. Dirks [2001]).   



Wassalaam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar