Jumat, 20 Mei 2011

DISTORSI MARKUS 2:


PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN

Konon, pada suatu kali Yesus mulai mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuninya, sehingga ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu mendengarkannya di darat, di tepi danau itu. Dan Yesus mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Markus menduga bahwa Yesus sering berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan, dengan maksud untuk tetap menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak pantas mengetahuinya. Sebaliknya, murid-murid Yesus mampu memahami "rahasia-rahasia" ini, yang tersimpan dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Ketika Yesus sendirian, para pengikut dan kedua belas muridnya mendatanginya dan bertanya tentang perumpamaan itu. 
Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." (Markus 4:11-12) 

Berbeda dengan Matius (Matius 13:14), Markus tidak secara tegas menyebut perumpamaan-perumpamaan itu sebagai hal pemenuhan nubuat. Namun demikian, pernyataan yang dinisbahkan ke mulut Yesus di atas sebenarnya merupakan penggalan ayat dalam
Kitab Yesaya. Dalam hal ini, Markus tampaknya juga menggunakan terjemahan Yesaya dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani. Pernyataan Yesaya sebenarnya adalah sebagai berikut: 
Lalu aku (Yesaya) mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh." Kemudian aku bertanya: "Sampai berapa lama, ya Tuhan?" Lalu jawab-Nya: "Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. (Yesaya 6:8-11) 

Markus berusaha memilih kata-kata Yesaya menjadi sebuah nubuat yang kemudian seolah-olah digenapi oleh Yesus dengan mengeluarkan ayat Yesaya tersebut dari konteks yang sebenarnya. Dengan menghapus bagian awal dan akhir ayat-ayat Yesaya, dimana Yesaya konon secara suka-rela menyampaikan pesan dari Allah, Markus menyembunyikan fakta bahwa pesan Yesaya itu sebenarnya membicarakan tentang diutusnya
Yesaya sebagai seorang nabi Allah. Pesan ini jelas mengidentifikasi Yesaya sebagai seorang rasul yang dibicarakan, dan dengan jelas mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang telah digenapi selama masa hidup Yesaya sendiri. 

Sekali lagi, kutipan Markus dari Yesaya yang diletakkan di mulut Yesus sebenarnya
sudah digenapi oleh nabi Yesaya sendiri sebagai salah seorang rasul Allah untuk bani Israel!  




Wassalaam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar