Minggu, 22 Mei 2011

KEUTAMAAN MUHAMMAD ATAS ISA

Apakah keuta­maan Muhammad saw. di atas Isa dan seluruh Nabi­ nabi yang mulia dalam segala hal? Dan bagaimana adanya keutamaan itu?

Jawab

Tidak diragukan lagi, bahwa Allah swt. telah melebihkan keutamaan para nabi-nabi di atas makhluk-makhluk-Nya yang lain. Kemudian Allah swt. melebihkan keutamaan sebagian mereka sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain."153 Dan firman­Nya yang artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud." 154

Dan nabi-nabi yang paling utama adalah lima nabi ulul azmi yang disebutkan dalam firman Allah swt. yang artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, lbrahim, Musa dan Isa putera Maryam."155 Dalam ayat ini Allah swt. memulainya dengan Muhammad saw. Dan nabi yang paling utama di antara nabi-nabi ulul azmi itu adalah Muhammad dan Ibrahim, sementara yang paling utama di antara keduanya adalah Muhammad saw. Sesungguhnya Allah swt. telah meiebihkan keutamaan Muhammad saw. di atas nabi-nabi yang lainnya dengan sebab keistimewaan yang hanya Allah berikan kepada beliau, sebagaimana sabdanya: "Aku telah diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorar.gpun nabi sebelumku" . . . "dan adalah nabi diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya."156 Maka keutamaan itu terletak pada keistimewaan-keistimewaan Rasulullah, terutama kedekatannya di sisi Tuhan, syafa' at untuk ummatnya diterima Allah di hari kiamat, dan pada maqam terpuji yang dijanjikan untuk Rasulullah saw.

Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kalian lebihkan aku atas Musa", maka beliau mengatakan ini dari sisi ketawadhuan (kerendahan hati) dan dari sisi pengakuan akan keutamaan Musa, karena mukjizat-mukjizatyang telah diberikan Allah swt. kepadanya.

Tidak diragukan lagi, bahwa Allah swt. telah memberinya keistimewaan dengan berbicara langsung kepada Allah swt. sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung."157 Selain itu, Nabi kita Muhammad saw. juga mendapatkan seluruh keistimewaan para nabi-nabi, seperti mukjizat-mukjizat mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab sirah. wallahu a'lam.158



153. QS. al-Baqarah:253
154. QS. Al-Israa’: 55
155. QS. al-Ahzaab : 7.
156. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab: as-Shalaat, Bab: Qaulu an-Nabi shallallahu `alaihi wa sallam; Ju`ilats ti al-ardhu masjidan wa thahuuran, hadits no. 438, dari Jabir ibn Abdullah ra. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab: al Masaajid, Bab: Ju`ilats li al-ardhu masjidan wa thahuuran, hadits no. 3, dari Jabir ibn Abdullah ra. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad III/304 dari Jabir ibn Abdullah ra. Diriwayatkan oleh an-Nasaa`i dalam kitab: al-Ghusl, bab: at Tayammum bi as­sha`iid, hadits no. 432, dari Jabir ibn Abdullah ra. Dan diriwayatkan oleh ad-Daarimi dalam Kitab: as-Shalaat, Bab: al-Ardhu kulluhu thahuurun maa khalaa al maqbarah wa al hammaam, hadits no. 1361, dari Jabir ibn Abdullah ra.
157. QS. an-Nisaa': 164.
158. Berkata komentator kitab Aqidoh at-Thahawiyah, al Qadhi Ali ibn Ali ibn Muhammad Abi al-Aziz a-Dimasyqi, pada hal 159, tentang kebolehan mengutamakan sebagian nabi atas sebagian lainnya kecuali berdasarkan sikap fanatik buta: "Sesungguhnya pengutamaan itu, jika berdasarkan sikap fanatik dan hawa nafsu, adalah tercela. Bahkan jihad sendiri -apabila seseorang berperang karena fanatik buta- adalah tercela, makanya Allah mengharamkan sikap membanggakan diri. Allah swt. telah berfirman: "Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang IoinJ" dan berfirman ""Rasul-rasul itu Kami lebihkon sebogian (dari) mereko atas sebagian yang lain". Maka diketahui bahwa yang tercefa hanyalah pengutamaan dengan cara membanggakan diri, atau dengan cara mengurangi kelebihan yang lain. Berdasarkan ini jugalah muatan makna hadits beliau: "Jonganloh kolion melebih­lebihkan di antara para nabi", jika hadits ini kuat. Karena sekalipun hadits ini semakna dengan hadits tentang Musa, yang terdapat dalam kitab Bukhari dan lainnya, akan tetapi sebagian orang mengatakan bahwa di dalamnya terdapat cacat. Berbeda dengan hadits tentang Musa, maka hadits tersebut shahih, tak ada cacatnya menurut kesepakatan mereka. Namun sebagian mereka memberikan jawabari lain, yaitu: bahwa hadits "Jangonlah kalian lebih-lebihkan aku atas Musa" dan hadits "Janganlah kalian melebih-lebihkan di antara para nabi" adalah larangan melebihkan secara khusus, maksudnya para rasul sendiri tidak saling melebihkan. Berbeda dengan hadits beliau: "Aku adalah penghulu anakAdam, nomun tidak bangga", maka hadits ini melebihkan secara umum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar