Minggu, 22 Mei 2011

Jawaban Syar'iyyah Terhadap Keimanan Kristen

Orang-orang Nasranl menyembah Isa. Oleh karena itu, kita lihat mereka senantiasa bersumpah dengan menyebut namanya, memohon perlindungan dan berdoa kepadanya serta menyembelih kurban untuknya, karena mereka meyakini, bahwa Isa adalah juru penyelamat, dan ia disalib demi membebaskan manusia dari dosa Adam as. serta berbagai keyakinan lainnya. Lantas apa jawaban syara' terhadap aqidah-aqidah yang menyimpang semacam ini?

Jawab:

Tidak diragukan lagi, bahwa Isa adalah seorang hamba Allah swt. Isa al-Masih adalah makhluk, karena ibunya telah mengandungnya -sebagaimana halnya para wanita- kemudian melahirkannya, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya: Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma.133 Maksudnya itulah rasa sakit yang biasanya terjadi kepada para wanita di saat hendak melahirkan. Selain itu beliau juga dilahirkan sebagai bayi sehingga ibunya meletakkannya di dalam buaian yang biasa digunakan untuk bayi yang baru lahir.

Tidak diragukan lagi, bahwa beliau juga menyusui dari payudara dan memakan makanan seperti halnya seluruh manusia, sebagaimana firman Allah swt. yang artinya: al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.134  Sudah dimaklumi, bahwa orang yang membutuhkan makanan berarti dia adalah seseorang yang memiliki kekurangan; tidak pantas menjadi Tuhan, dan karena dia perlu buang hajat di dunia, maka itu adalah aib yang jelas bertentangan dengan sifat Uluhiyah dan Rububiyah (ketuhanan). Kemudian orang-orang Yahudi juga mengklaim, bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya, sementara or­ang-orang Nasrani sependapat dengan mereka tentang hal tersebut. Apa yang mereka yakini itu merupakan bukti kelemahan, sebab Allah yang sebenarnya sudah tentu Maha Kuasa membalas orang­orang yang menentang atau melawan-Nya. Lantas bagaimana mereka bisa mengklaim, bahwa Isa adalah anak Allah yang kemudian disalib dan disiksa, sementara Tuhannya hanya melihat -padahal dia adalah anak-Nya? Akan tetapi, mengapa Tuhan tidak membela Isa yang notabene adalah anak-Nya (menurut sangkaan mereka)!?

Tidak diragukan lagi, bahwa perbuatan orang-orang Nasrani yang berdoa kepadanya, menyembelih kurban untuknya, bersumpah dan berlindung dengannya, adalah bukti kelemahan akal dan kurangnya pemahaman mereka. Jika memang mereka memahami dan mengerti, bagaimana bisa mereka tetap mengagungkan salib tempat Tuhan dan sesembahan mereka disalib? Padahal lebih pantas jika mereka menginjak-injak dan membakarnya. Kemudian bagaimana bisa mereka mengagungkan sang anak Tuhan yang -dalam sangkaan mereka- tidak sanggup membela dirinya sendiri ini? Bukankah sudah tentu dia lebih tidak sanggup mengabulkan permintaan mereka dan menyelamatkan mereka dari api neraka, serta menolong mereka dari musuh-musuh mereka? Bagaimana mungkin dia disalib dan untuk membebaskan r:.anusia dari kesalahan Adam? Bukankah Adam sendiri telah bertaubat sebagaimana firman Allah swt. yang artinya: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.135 Bagaimana bisa tak seorangpun dari anak-anak Adam mau mengorbankan diri untuk menebus kesalahan ayahnya sehingga dosa itu tetap ada sampai Isa datang dan mengorbankan dirinya sebagai penebus Adam? Jelas semua ini adalah bukti kelemahan akal mereka yang musyrik itu.

Adapun masalah berbicaranya Isa as. ketika masih dalam buaian, maka itu merupakan mukjizat baginya. Dan orang selain Isa pun juga ada yang berbicara ketika masih bayi, seperti sahabat Juraih dan lainnya.136

Adapun kemampuan Isa menciptakan sebentuk burung dari tanah, menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta dan berpenyakit kusta, maka ini semua adalah mukjizat­mukjizat yang menunjukkan kenabiannya dan menunjukkan kebenaran apa yang didakwahkannya, sebagaimana Allah telah menguatkan kenabian Musa dengan mukjizat tangan yang bersinar, tongkat menjadi ular, terbelahnya lautan dan lain sebagainya. wallahu a`lam.137

133. QS. Maryam: 23.
134. QS. al-Maa'idah: 75.
135. QS. al-Baqarah: 37.
136. palam Kitab: Ahaadist al-Anbiyaa', Bab: "Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya . . . (QS. Maryam: 16) lmam Bukhari pernah meriwayatkan haditst dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. sabdannya, "Tidak berbicara dalam buaian kecuali tiga orang: [sa, dan seorang laki­laki dari Bani lsrael bernama Juraih. Waktu itu ia sedang shalat, lalu datanglah ibunya memanggil. Maka ia berkata (dalam hatinya): Apakah aku menjawabnya ataukah terus shalat? Lantas ibunya berkata: Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sampai Engkau perlihatkan kepadanya wajah pelacur. Pada saat Juraih sedang berada di tempat ibadahrya, datanglah seorang perempuan mencakapi dan menggodanya, namun ia tidak mau. Lantas wanita itu mendatangi seorang penggembala dan menyerahkan diri kepadanya. Maka ia pun melahirkan seorang bayi. Ketika ia ditanya dari siapa bayi tersebut, ia mengatakan dari Juraih. Maka orang-orangpun mendatangi Jurajh, menghancurkan tempat ibadahnya, mengeluarkannya dan mencaci makinya. Lalu Juraih berwudhu dan shalat. Kemudian ia mendatangi bayi itu dan berkata, `Siapa ayahmu nak?'. Bayi itu berkata, `Si tukang gembala'. Maka orang-orang yang tadi mencaci makinya merasa menyesal dan berkata, `Maukah engkau kami bangunkan tempat ibadahmu dari emas?'. Kata Juraih, `Tidak, kecuali dari tanah'. Dan seorang wanita Bani Israel yang sedang menyusukan bayinya. Kemudian lewatlah seorang laki-laki terhormat yang menaiki tunggangan. Maka wanita itu berkata, `Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti dia'. Lantas bayi itu melepaskan isapan susunya dan memandang ke arah si penunggang tadi, lalu berkata, `Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia', kemudian ia kembali mengisap susunya". Kata Abu Hurairah, `Seoiah-olah aku melihat Nabi saw. mengisap jarinya sendiri'. Lanjut beliau, "Kemudian lewatlah seorang budak perempuan. Maka wanita yang menyusui itu berkata, `Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku ini seperti dia'. Lantas bayi tersebut melepaskan isapan susunya dan berkata, `Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia'. Lalu ibunya berkata, `Kenapa?'. Jawab bayi itu, `Si penunggang tadi ada(ah salah seorang yang lalim, sedangkan budak wanita ini mereka menuduhnya pencuri dan penzina, padahal dia tidak melakukannya"'. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, hadits no. 7 dan 8, dalam kitab: al-Birru wa as-Shilah, Bab: Taqdiim Birri al Walidaini ' ala at Tathawwu' bi as-Shalaati wa Ghairiha, dan juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad 2/307.
137. Disebutkan dalam buku Munazharah Baina al Islam wa an-Nashraniyah (hal. 272) ketika membantah aqidah salib dan penebusan dosa: "Perkataan ini... tidak masuk akal, sama sekali tidak pantas digunakan untuk interaksi sesama manusia karena maknanya menghilangkan tanggung jawab pribadi. Lantas bagaimana bisa Allah SWT ridha agar hal itu menjadi sunnah-Nya dalam berinteraksi dengan manusia?. Coba anda bayangkan, sekiranya ada seorang manusia pergi ke mahkarnah karena tertuduh dalam kasus pembunuhan, tangannya berlumuran darah dan telah terbukti keterlibatannya dari segala sisi, serta ia sendiripun telah mengaku bahwa dialah pembunuhnya, apakah ia atau para pembelanya berhak membela diri dengan mengatakan: "Memang saya(ah pembunuhnya dan sayalah yang telah menyerefiya ke tempat itu lalu menghabisi nyawanya. Akan tetapi si Fulan lah (atau lainnya) yang
emikul tanggung jawab ini, maka hukumlah dia". Apakah ini dapat diterima pada pandangan manusia dan logikanya?. Apabila manusia sendiri tidak dapat menerima hal semacam ini dalam peradilan sistem mereka-padahal sistem peradilan manusia memiliki kekurangan dari seluruh sisi- , apakah yang demikian itu boleh terjadi di hadapan keadilan Allah SWT?.
Siapa yang ingin memperdalam bantahan terhadap Nasrani tentang aqidah penyaliban dan penebusan dosa, maka rujuklah buku Syekh al Islam Ibn Taimiyah yang berjudul al-Jawaab as-Shahih li Man Baddala Diin al Masih, 2/108.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar