Minggu, 22 Mei 2011

Mengapa kaum Yahudi ingin membunuh isa as.?

jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. bahkan telah menyebutkan secara jelas, bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi. Dan hal itu dikarenakan sangat banyak para nabi yang telah mereka bunuh. Di dalam al-Qur`an Allah swt. berfirman yang artinya,

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87)

Sebab pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi tersebut tidak lain adalah, karena mereka (para nabi tersebut) menyampaikan kepada mereka (kaum Yahudi) perkara-perkara yang sangat bertentangan dengan keinginan syahwat dan pendapat mereka, sehingga mereka pun tidak lagi menemukan alasan untuk tidak membunuh mereka atau menolak dakwah mereka. Karena itulah, yang mereka bunuh pun tidak hanya para nabi saja, para da'i di jalan Allah swt. juga turut mereka bunuh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah swt. yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih." (QS. Ali Imran (3) : 21)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., Rasulullah saw. berkata, "Setelah bani Israil membunuh tiga ratus nabi di awal hari, mereka pun membuka kedai-kedai mereka di sore harinya."

Ketika menafsirkan firman Allah, "Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, RasulAllah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam l:eragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin, bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. " (QS. an-Nisa' (4) : 157) Ibnu Katsir berkata, "Saat Allah swt. mengutus Isa as. sebagai seorang rasul dengan membawa penjelasan-penjelasan yang nyata dan petunjuk yang benar, bangsa Yahudi pun memusuhinya. Mereka iri terhadap apa yang telah diberikan Allah swt. kepadanya, dari anugerah kenabian hingga mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang sengaja diberikan Allah swt. kepadanya untuk memuliakannya. Karena itulah mereka mendustakannya, dan berusaha untuk menyakitinya bahkan membunuhnya dengan se3ala cara. Sehingga nabi Allah Isa as. bersama ibunya pun hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain.

Penderitaan hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain pun, ternyata belum memuaskan kaum Yahudi. Karena itulah, mereka juga pergi untuk menghadap raja Damaskus pada waktu itu yang kebetulan juga seorang musyrik, dan mengatakan kepadanya bahwa, "Di dalam baitul Maqdis, ada seorang laki-laki yang telah memfitnah manusia, menyesatkan mereka, dan merusak warga para raja."

Setelah mendengar penjelasan dari mereka yang dipenuhi dengan rasa iri dan dengki tersebut, raja Damaskus pun menjadi murka. Karena itulah, kemudian ia menulis sebuah surat kepada gubernurnya yang berada di baitul Maqdis, yang berisi-kan perintah untuk segera menangkap orang tersebut, menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat di atas kepalanya, agar ia tidak dapat lagi menyesatkan manusia.

Segera setelah mendapat surat perintah itu, gubernur baitul Maqdis bersama sekelompok orang-orang Yahudi, pergi menuju rumah tempat kediaman Isa as., yang juga digunakannya untuk mengajar sahabat-sahabatnya. Ketika itu, nabi Aflah Isa as. sedang berada di tengah-tengah para sahabafiya, dan tatkala nabi Allah Isa as. dapat merasakan kedatangan orang-orang Yahudi tersebut, beliau pun berkata kepada para sahabatnya, "Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan Allah swt. wajahnya dengan wajahku agar ia dapat menjadi sahabatku di surga?" Salah seorang dari para sahabatnya segera menyambut tawaran itu, sehingga jadilah ia -dengan izin Allah swt.- seperti Isa as., dan nabi Isa as. sendiri diberikan rasa kantuk yang dalam oleh Allah swt. sehingga beliau pun tertidur. Dalam keadaan itulah, beliau diangkat ke langit.

Ketika pasukan gubernur baitul Maqdis dan sekelompok or­ang-orang Yahudi itu melihat pemuda yang telah diserupakan oleh Allah swt. wajahnya dengan wajah Isa tersebut, mereka menyangka bahwa pemuda itu adalah Isa, sehingga mereka pun menangkapnya pada malam hari, kemudian menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat berduri di atas kepalanya.

Orang-orang Yahudi pun kemudian menunjukkan seolah-olah merekalah yang telah melakukan penyaliban terhadap Isa as. dengan persetujuan dari orang-orang Nashrani sendiri, bahkan mereka pun menyebutkan bahwa, setelah Isa as. disalib, Maryam duduk di bawah salibnya sambil menangis.98 Wallahu A'lam


98. Kehidupan nabi Isa as. selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, begitupun dengan dakwahnya. Dan hal itu tidak lain, karena setiap kali Nabi Isa as. menyampaikan dakwahnya di suatu tempat, selalu berdebat dengan orang-orang sesat dari kalangan pendeta yang menentangnyajuga dengan para penulis kitab dan kaum farisi. Isa as. menunjukkan kepada mereka jalan Allah yang lurus, memerintahkan mereka untuk tetap beristiqomah, dan menjelaskan kepada mereka betapa jalan yang mereka tempuh saat ini begitu sesat. Tak lupa, al-Masih pun mencela sikap riya` dan perbuatan-perbuatan keji mereka, seketika hati mereka pun menjadi sempit dan dipenuhi dengan rasa iri, dengki, serta kebencian. Sehingga mereka pun berkumpul, lalu berkata, "Sesungguhnya kami sangat khawatir, bahwa Isa akan merusak agama kami karean banyak orang yang mengikuti ajarannya." Padahal agama yang rusak itu adalah agama mereka, dan hal itu karena mereka banyak merubah syari'at­syari'at Allah swt. sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka sendiri. Sedangkan agama yang dibawa nabi Isa as. adalah agama yang benar, yang meluruskan kerusakan­kerusakan yang telah mereka perbuat. Setelah mendengar penjelasan dari para pendeta tersebut, maka pemuka para pendeta Yahudi pada waktu itu, yang namanya Qayafa, pun berkata, "Satu orang yang mati lebih baikdaripada seluruh masyarakat lari dari agama mereka." Inilah fatwa yang dikeluarkan oleh pemuka para pendeta Yahudi. Ia telah menghalalkan pembunuhan nabi Isa as., sehingga para pembesar Yahudi dari para ulama mereka pun berkumpul dan bersepakat untuk segera membunuh nabi Isa as.
Lihat; kitab "Makayid Yahudiyah 'Abra at-Tarikh" (Tipudaya Yahudi Sepanjang Sejarah), hal. 32, karya Abdurrahman Hasan al-Maidani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar