Minggu, 22 Mei 2011

perkara-2 yg dihalalkan oleh Isa - alaihissalam ­ kepada bani Israel yang sebelumnya diharamkan atas mereka

Apakah perkara-2 yg dihalalkan oleh Isa - alaihissalam ­ kepada bani Israel yang sebelumnya diharamkan atas mereka?

Jawab:

Tidak diragukan lagi, bahwa Isa -alaihissalam- pernah menghalalkan sebagian perkara yang diharamkan sebelum masa kerasulannya. Dalil yang menunjukkan akan hal ini adalah firman Allah di dalam surat Ali Imraan, ayat 50, yang artinya,

 "Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu'jizat dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta'atlah kepadaku." (QS. Ali Imran (3):50)

Ibnu Katsir 94 berkata, "Ayat ini menunjukkan bahwa, nabi Isa -alaihissalam- pernah menghapuskan sebagian syari'at yang ada di dalam kitab Taurat. Dan inilah pendapat yang benar, dari dua pendapat yang ada dalam masalah ini."

Akan tetapi, ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa, "Nabi Isa as. tidak pernah menghapuskan satu syari'at pun yang ada di dalam kitab Taurat. Adapun sebagian perkara yang dihalalkannya bagi bani Israil adalah, perkara-perkara yang mereka perselisihkan karena kesalahan mereka di dalam memahaminya. Dan yang dilakukan oleh Nabi Isa as., kemudian meluruskan pemahaman mereka tersebut. Hal ini sebagaimana yang disebutkan Allah swt. di dalam firman-Nya yang artinya,

"Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "
Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bsrtaqwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)Ku." (QS. az-Zukhruf (43) : 63)

Di dalam satu riwayat yang disampaikan oleh Ahmad dari Ibnu Abbas ra. disebutkan, bahwa suatu ketika Rasulullah saw. pernah berkata kepada sekelompok orang Yahudi, "Sesung.quhnya Israil - Ya'qub as.- pernah menderita suatu penyakit yang sangat parah, sehingga ia pun bersumpah, jika Allah swt. menyembuhkannya dari penyakit itu, maka ia akan mengharamkan makanan dan minuman kesukaannya terhadap dirinya sendiri, dan makanan kesukaannya pada waktu itu adalah dagingonta, sedangkan minuman kesukaannya adalah susu onta. "95

Ketika menafsirkan firman Allah swt. yang artinya,
"Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang yang benar." (QS. Ali Imraan (3) : 93) di dalam kitab tafsirnya, imam Ibnu Katsir juga berkata, "Sebagian perkara yang pada awalnya dibolehkan, kemudian diharamkan, dan kemudian dibolehkan lagi."

Ibnu Katsir melanjutkan, "Pada awalnya, Allah swt. menghalalkan kepada Adam as. untuk menikahkan antara anak­anaknya yang laki-laki dengan anak-anaknya yang perempuan, namun kemudian perkara ini pun diharamkan. Pada masa nabi Ibrahim as., di dalam syari'atnya, berhubungan dengan budak perempuan dibolehkan, bahkan nabi Ibrahim as. sendiri pun melakukannya, yaitu dengan menikahi Sarah -budak perempuannya- hal itu terjadi telah beristrikan Hajar. Namun kemudian perkara ini juga diharamkan di dalam syari'at Taurat, dan seterusnya. Karena itulah Allah swt. berfirman yang artinya,

"Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah." (QS. an-Nisaa' (4) : 160)

Di dalam satu riwayat juga disebutkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Sesungguhnya orang-orang Yahudi telah mengharamkan atas diri mereka sendiri lemak binatang ternak, namun kemudian mereka mengumpulkannya dan menjualnya, kemudian memakan harganya.96"

Di dalam riwayat lain, Rasulullah saw. juga pernah bersabda, "Sesungguhnya apabila Allah swt. telah mengharamkan sesuatu, maka Dia pun telah mengharamkan nilainya (harga). "97 Wallahu A'lam.



94. Lihat; Tafsir lbnu Katsir, suratAli Imraan (1/314).
95. Lihat; Tafsir lbnu Kaksir, suratAli Imran (1/328).
96. Diriwayatkan ofeh Bukhari, hadits nomor (2236), kitab al-Buyuu', bab; Jual-beli Mayat dan Berhala. Imam Muslim, hadits nomor (71), kitab al-Masaqah, bab; Diharamkonnya Jual-beli Khomar, Mayat, Bobi, dan Berhalo. lmam at Turmudzi, hadits nomor (1301), kitab ol-Buyu', bab; Jual-beli Kulit dan Berhala. Imam an-Nasa'i, hadits nomor (4669), kitab al-Buyu', bab; Jual-beli Babi. Imam Ibnu Majah, hadits nomor (2167), kitab at-Tijaraat, bab; Barang-barang Yang Tidak Boleh Diperjual­bel ikan. Dan seluruh riwayat-riwayat mereka diambil dari Jabir Ibnu Abdullah ra.
97. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan nomor hadits (3488), kitab, al-Buyu' wa al­
Ijarah, bab; Harga Jual-beli Khamat dan Mayot, dari Ibnu Abbas -radhiallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad di ialam kitab Musnadnya (2/247, 293, 322).
Mengapa kaum Yahudi ingin membunuh isa as.?

jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. bahkan telah menyebutkan secara jelas, bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi. Dan hal itu dikarenakan sangat banyak para nabi yang telah mereka bunuh. Di dalam al-Qur`an Allah swt. berfirman yang artinya,

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87)

Sebab pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi tersebut tidak lain adalah, karena mereka (para nabi tersebut) menyampaikan kepada mereka (kaum Yahudi) perkara-perkara yang sangat bertentangan dengan keinginan syahwat dan pendapat mereka, sehingga mereka pun tidak lagi menemukan alasan untuk tidak membunuh mereka atau menolak dakwah mereka. Karena itulah, yang mereka bunuh pun tidak hanya para nabi saja, para da'i di jalan Allah swt. juga turut mereka bunuh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah swt. yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih." (QS. Ali Imran (3) : 21)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., Rasulullah saw. berkata, "Setelah bani Israil membunuh tiga ratus nabi di awal hari, mereka pun membuka kedai-kedai mereka di sore harinya."

Ketika menafsirkan firman Allah, "Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, RasulAllah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam l:eragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin, bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. " (QS. an-Nisa' (4) : 157) Ibnu Katsir berkata, "Saat Allah swt. mengutus Isa as. sebagai seorang rasul dengan membawa penjelasan-penjelasan yang nyata dan petunjuk yang benar, bangsa Yahudi pun memusuhinya. Mereka iri terhadap apa yang telah diberikan Allah swt. kepadanya, dari anugerah kenabian hingga mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang sengaja diberikan Allah swt. kepadanya untuk memuliakannya. Karena itulah mereka mendustakannya, dan berusaha untuk menyakitinya bahkan membunuhnya dengan se3ala cara. Sehingga nabi Allah Isa as. bersama ibunya pun hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain.

Penderitaan hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain pun, ternyata belum memuaskan kaum Yahudi. Karena itulah, mereka juga pergi untuk menghadap raja Damaskus pada waktu itu yang kebetulan juga seorang musyrik, dan mengatakan kepadanya bahwa, "Di dalam baitul Maqdis, ada seorang laki-laki yang telah memfitnah manusia, menyesatkan mereka, dan merusak warga para raja."

Setelah mendengar penjelasan dari mereka yang dipenuhi dengan rasa iri dan dengki tersebut, raja Damaskus pun menjadi murka. Karena itulah, kemudian ia menulis sebuah surat kepada gubernurnya yang berada di baitul Maqdis, yang berisi-kan perintah untuk segera menangkap orang tersebut, menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat di atas kepalanya, agar ia tidak dapat lagi menyesatkan manusia.

Segera setelah mendapat surat perintah itu, gubernur baitul Maqdis bersama sekelompok orang-orang Yahudi, pergi menuju rumah tempat kediaman Isa as., yang juga digunakannya untuk mengajar sahabat-sahabatnya. Ketika itu, nabi Aflah Isa as. sedang berada di tengah-tengah para sahabafiya, dan tatkala nabi Allah Isa as. dapat merasakan kedatangan orang-orang Yahudi tersebut, beliau pun berkata kepada para sahabatnya, "Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan Allah swt. wajahnya dengan wajahku agar ia dapat menjadi sahabatku di surga?" Salah seorang dari para sahabatnya segera menyambut tawaran itu, sehingga jadilah ia -dengan izin Allah swt.- seperti Isa as., dan nabi Isa as. sendiri diberikan rasa kantuk yang dalam oleh Allah swt. sehingga beliau pun tertidur. Dalam keadaan itulah, beliau diangkat ke langit.

Ketika pasukan gubernur baitul Maqdis dan sekelompok or­ang-orang Yahudi itu melihat pemuda yang telah diserupakan oleh Allah swt. wajahnya dengan wajah Isa tersebut, mereka menyangka bahwa pemuda itu adalah Isa, sehingga mereka pun menangkapnya pada malam hari, kemudian menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat berduri di atas kepalanya.

Orang-orang Yahudi pun kemudian menunjukkan seolah-olah merekalah yang telah melakukan penyaliban terhadap Isa as. dengan persetujuan dari orang-orang Nashrani sendiri, bahkan mereka pun menyebutkan bahwa, setelah Isa as. disalib, Maryam duduk di bawah salibnya sambil menangis.98 Wallahu A'lam


98. Kehidupan nabi Isa as. selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, begitupun dengan dakwahnya. Dan hal itu tidak lain, karena setiap kali Nabi Isa as. menyampaikan dakwahnya di suatu tempat, selalu berdebat dengan orang-orang sesat dari kalangan pendeta yang menentangnyajuga dengan para penulis kitab dan kaum farisi. Isa as. menunjukkan kepada mereka jalan Allah yang lurus, memerintahkan mereka untuk tetap beristiqomah, dan menjelaskan kepada mereka betapa jalan yang mereka tempuh saat ini begitu sesat. Tak lupa, al-Masih pun mencela sikap riya` dan perbuatan-perbuatan keji mereka, seketika hati mereka pun menjadi sempit dan dipenuhi dengan rasa iri, dengki, serta kebencian. Sehingga mereka pun berkumpul, lalu berkata, "Sesungguhnya kami sangat khawatir, bahwa Isa akan merusak agama kami karean banyak orang yang mengikuti ajarannya." Padahal agama yang rusak itu adalah agama mereka, dan hal itu karena mereka banyak merubah syari'at­syari'at Allah swt. sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka sendiri. Sedangkan agama yang dibawa nabi Isa as. adalah agama yang benar, yang meluruskan kerusakan­kerusakan yang telah mereka perbuat. Setelah mendengar penjelasan dari para pendeta tersebut, maka pemuka para pendeta Yahudi pada waktu itu, yang namanya Qayafa, pun berkata, "Satu orang yang mati lebih baikdaripada seluruh masyarakat lari dari agama mereka." Inilah fatwa yang dikeluarkan oleh pemuka para pendeta Yahudi. Ia telah menghalalkan pembunuhan nabi Isa as., sehingga para pembesar Yahudi dari para ulama mereka pun berkumpul dan bersepakat untuk segera membunuh nabi Isa as.
Lihat; kitab "Makayid Yahudiyah 'Abra at-Tarikh" (Tipudaya Yahudi Sepanjang Sejarah), hal. 32, karya Abdurrahman Hasan al-Maidani.

Mengapa kaum Yahudi ingin membunuh isa as.?



jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. bahkan telah menyebutkan secara jelas, bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi. Dan hal itu dikarenakan sangat banyak para nabi yang telah mereka bunuh. Di dalam al-Qur`an Allah swt. berfirman yang artinya,

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87)

Sebab pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi tersebut tidak lain adalah, karena mereka (para nabi tersebut) menyampaikan kepada mereka (kaum Yahudi) perkara-perkara yang sangat bertentangan dengan keinginan syahwat dan pendapat mereka, sehingga mereka pun tidak lagi menemukan alasan untuk tidak membunuh mereka atau menolak dakwah mereka. Karena itulah, yang mereka bunuh pun tidak hanya para nabi saja, para da'i di jalan Allah swt. juga turut mereka bunuh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah swt. yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih." (QS. Ali Imran (3) : 21)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., Rasulullah saw. berkata, "Setelah bani Israil membunuh tiga ratus nabi di awal hari, mereka pun membuka kedai-kedai mereka di sore harinya."

Ketika menafsirkan firman Allah, "Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, RasulAllah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam l:eragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin, bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. " (QS. an-Nisa' (4) : 157) Ibnu Katsir berkata, "Saat Allah swt. mengutus Isa as. sebagai seorang rasul dengan membawa penjelasan-penjelasan yang nyata dan petunjuk yang benar, bangsa Yahudi pun memusuhinya. Mereka iri terhadap apa yang telah diberikan Allah swt. kepadanya, dari anugerah kenabian hingga mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang sengaja diberikan Allah swt. kepadanya untuk memuliakannya. Karena itulah mereka mendustakannya, dan berusaha untuk menyakitinya bahkan membunuhnya dengan se3ala cara. Sehingga nabi Allah Isa as. bersama ibunya pun hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain.

Penderitaan hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain pun, ternyata belum memuaskan kaum Yahudi. Karena itulah, mereka juga pergi untuk menghadap raja Damaskus pada waktu itu yang kebetulan juga seorang musyrik, dan mengatakan kepadanya bahwa, "Di dalam baitul Maqdis, ada seorang laki-laki yang telah memfitnah manusia, menyesatkan mereka, dan merusak warga para raja."

Setelah mendengar penjelasan dari mereka yang dipenuhi dengan rasa iri dan dengki tersebut, raja Damaskus pun menjadi murka. Karena itulah, kemudian ia menulis sebuah surat kepada gubernurnya yang berada di baitul Maqdis, yang berisi-kan perintah untuk segera menangkap orang tersebut, menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat di atas kepalanya, agar ia tidak dapat lagi menyesatkan manusia.

Segera setelah mendapat surat perintah itu, gubernur baitul Maqdis bersama sekelompok orang-orang Yahudi, pergi menuju rumah tempat kediaman Isa as., yang juga digunakannya untuk mengajar sahabat-sahabatnya. Ketika itu, nabi Aflah Isa as. sedang berada di tengah-tengah para sahabafiya, dan tatkala nabi Allah Isa as. dapat merasakan kedatangan orang-orang Yahudi tersebut, beliau pun berkata kepada para sahabatnya, "Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan Allah swt. wajahnya dengan wajahku agar ia dapat menjadi sahabatku di surga?" Salah seorang dari para sahabatnya segera menyambut tawaran itu, sehingga jadilah ia -dengan izin Allah swt.- seperti Isa as., dan nabi Isa as. sendiri diberikan rasa kantuk yang dalam oleh Allah swt. sehingga beliau pun tertidur. Dalam keadaan itulah, beliau diangkat ke langit.

Ketika pasukan gubernur baitul Maqdis dan sekelompok or­ang-orang Yahudi itu melihat pemuda yang telah diserupakan oleh Allah swt. wajahnya dengan wajah Isa tersebut, mereka menyangka bahwa pemuda itu adalah Isa, sehingga mereka pun menangkapnya pada malam hari, kemudian menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat berduri di atas kepalanya.

Orang-orang Yahudi pun kemudian menunjukkan seolah-olah merekalah yang telah melakukan penyaliban terhadap Isa as. dengan persetujuan dari orang-orang Nashrani sendiri, bahkan mereka pun menyebutkan bahwa, setelah Isa as. disalib, Maryam duduk di bawah salibnya sambil menangis.98 Wallahu A'lam


98. Kehidupan nabi Isa as. selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, begitupun dengan dakwahnya. Dan hal itu tidak lain, karena setiap kali Nabi Isa as. menyampaikan dakwahnya di suatu tempat, selalu berdebat dengan orang-orang sesat dari kalangan pendeta yang menentangnyajuga dengan para penulis kitab dan kaum farisi. Isa as. menunjukkan kepada mereka jalan Allah yang lurus, memerintahkan mereka untuk tetap beristiqomah, dan menjelaskan kepada mereka betapa jalan yang mereka tempuh saat ini begitu sesat. Tak lupa, al-Masih pun mencela sikap riya` dan perbuatan-perbuatan keji mereka, seketika hati mereka pun menjadi sempit dan dipenuhi dengan rasa iri, dengki, serta kebencian. Sehingga mereka pun berkumpul, lalu berkata, "Sesungguhnya kami sangat khawatir, bahwa Isa akan merusak agama kami karean banyak orang yang mengikuti ajarannya." Padahal agama yang rusak itu adalah agama mereka, dan hal itu karena mereka banyak merubah syari'at­syari'at Allah swt. sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka sendiri. Sedangkan agama yang dibawa nabi Isa as. adalah agama yang benar, yang meluruskan kerusakan­kerusakan yang telah mereka perbuat. Setelah mendengar penjelasan dari para pendeta tersebut, maka pemuka para pendeta Yahudi pada waktu itu, yang namanya Qayafa, pun berkata, "Satu orang yang mati lebih baikdaripada seluruh masyarakat lari dari agama mereka." Inilah fatwa yang dikeluarkan oleh pemuka para pendeta Yahudi. Ia telah menghalalkan pembunuhan nabi Isa as., sehingga para pembesar Yahudi dari para ulama mereka pun berkumpul dan bersepakat untuk segera membunuh nabi Isa as.
Lihat; kitab "Makayid Yahudiyah 'Abra at-Tarikh" (Tipudaya Yahudi Sepanjang Sejarah), hal. 32, karya Abdurrahman Hasan al-Maidani.
Mengapa kaum Yahudi ingin membunuh isa as.?

jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. bahkan telah menyebutkan secara jelas, bahwa kaum Yahudi adalah kaum pembunuh para nabi. Dan hal itu dikarenakan sangat banyak para nabi yang telah mereka bunuh. Di dalam al-Qur`an Allah swt. berfirman yang artinya,

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87)

Sebab pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi tersebut tidak lain adalah, karena mereka (para nabi tersebut) menyampaikan kepada mereka (kaum Yahudi) perkara-perkara yang sangat bertentangan dengan keinginan syahwat dan pendapat mereka, sehingga mereka pun tidak lagi menemukan alasan untuk tidak membunuh mereka atau menolak dakwah mereka. Karena itulah, yang mereka bunuh pun tidak hanya para nabi saja, para da'i di jalan Allah swt. juga turut mereka bunuh. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah swt. yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih." (QS. Ali Imran (3) : 21)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., Rasulullah saw. berkata, "Setelah bani Israil membunuh tiga ratus nabi di awal hari, mereka pun membuka kedai-kedai mereka di sore harinya."

Ketika menafsirkan firman Allah, "Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, RasulAllah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam l:eragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin, bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. " (QS. an-Nisa' (4) : 157) Ibnu Katsir berkata, "Saat Allah swt. mengutus Isa as. sebagai seorang rasul dengan membawa penjelasan-penjelasan yang nyata dan petunjuk yang benar, bangsa Yahudi pun memusuhinya. Mereka iri terhadap apa yang telah diberikan Allah swt. kepadanya, dari anugerah kenabian hingga mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang sengaja diberikan Allah swt. kepadanya untuk memuliakannya. Karena itulah mereka mendustakannya, dan berusaha untuk menyakitinya bahkan membunuhnya dengan se3ala cara. Sehingga nabi Allah Isa as. bersama ibunya pun hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain.

Penderitaan hidup berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain pun, ternyata belum memuaskan kaum Yahudi. Karena itulah, mereka juga pergi untuk menghadap raja Damaskus pada waktu itu yang kebetulan juga seorang musyrik, dan mengatakan kepadanya bahwa, "Di dalam baitul Maqdis, ada seorang laki-laki yang telah memfitnah manusia, menyesatkan mereka, dan merusak warga para raja."

Setelah mendengar penjelasan dari mereka yang dipenuhi dengan rasa iri dan dengki tersebut, raja Damaskus pun menjadi murka. Karena itulah, kemudian ia menulis sebuah surat kepada gubernurnya yang berada di baitul Maqdis, yang berisi-kan perintah untuk segera menangkap orang tersebut, menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat di atas kepalanya, agar ia tidak dapat lagi menyesatkan manusia.

Segera setelah mendapat surat perintah itu, gubernur baitul Maqdis bersama sekelompok orang-orang Yahudi, pergi menuju rumah tempat kediaman Isa as., yang juga digunakannya untuk mengajar sahabat-sahabatnya. Ketika itu, nabi Aflah Isa as. sedang berada di tengah-tengah para sahabafiya, dan tatkala nabi Allah Isa as. dapat merasakan kedatangan orang-orang Yahudi tersebut, beliau pun berkata kepada para sahabatnya, "Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan Allah swt. wajahnya dengan wajahku agar ia dapat menjadi sahabatku di surga?" Salah seorang dari para sahabatnya segera menyambut tawaran itu, sehingga jadilah ia -dengan izin Allah swt.- seperti Isa as., dan nabi Isa as. sendiri diberikan rasa kantuk yang dalam oleh Allah swt. sehingga beliau pun tertidur. Dalam keadaan itulah, beliau diangkat ke langit.

Ketika pasukan gubernur baitul Maqdis dan sekelompok or­ang-orang Yahudi itu melihat pemuda yang telah diserupakan oleh Allah swt. wajahnya dengan wajah Isa tersebut, mereka menyangka bahwa pemuda itu adalah Isa, sehingga mereka pun menangkapnya pada malam hari, kemudian menyalibnya, dan meletakkan mahkota yang terbuat dari kawat berduri di atas kepalanya.

Orang-orang Yahudi pun kemudian menunjukkan seolah-olah merekalah yang telah melakukan penyaliban terhadap Isa as. dengan persetujuan dari orang-orang Nashrani sendiri, bahkan mereka pun menyebutkan bahwa, setelah Isa as. disalib, Maryam duduk di bawah salibnya sambil menangis.98 Wallahu A'lam


98. Kehidupan nabi Isa as. selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, begitupun dengan dakwahnya. Dan hal itu tidak lain, karena setiap kali Nabi Isa as. menyampaikan dakwahnya di suatu tempat, selalu berdebat dengan orang-orang sesat dari kalangan pendeta yang menentangnyajuga dengan para penulis kitab dan kaum farisi. Isa as. menunjukkan kepada mereka jalan Allah yang lurus, memerintahkan mereka untuk tetap beristiqomah, dan menjelaskan kepada mereka betapa jalan yang mereka tempuh saat ini begitu sesat. Tak lupa, al-Masih pun mencela sikap riya` dan perbuatan-perbuatan keji mereka, seketika hati mereka pun menjadi sempit dan dipenuhi dengan rasa iri, dengki, serta kebencian. Sehingga mereka pun berkumpul, lalu berkata, "Sesungguhnya kami sangat khawatir, bahwa Isa akan merusak agama kami karean banyak orang yang mengikuti ajarannya." Padahal agama yang rusak itu adalah agama mereka, dan hal itu karena mereka banyak merubah syari'at­syari'at Allah swt. sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka sendiri. Sedangkan agama yang dibawa nabi Isa as. adalah agama yang benar, yang meluruskan kerusakan­kerusakan yang telah mereka perbuat. Setelah mendengar penjelasan dari para pendeta tersebut, maka pemuka para pendeta Yahudi pada waktu itu, yang namanya Qayafa, pun berkata, "Satu orang yang mati lebih baikdaripada seluruh masyarakat lari dari agama mereka." Inilah fatwa yang dikeluarkan oleh pemuka para pendeta Yahudi. Ia telah menghalalkan pembunuhan nabi Isa as., sehingga para pembesar Yahudi dari para ulama mereka pun berkumpul dan bersepakat untuk segera membunuh nabi Isa as.
Lihat; kitab "Makayid Yahudiyah 'Abra at-Tarikh" (Tipudaya Yahudi Sepanjang Sejarah), hal. 32, karya Abdurrahman Hasan al-Maidani.

sifat dan mukjizat nabi isa as

Bagaimanakah sifat nabi Isa as. dan mukjizatnya menurut Islam?

Jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. telah menyebutkan, bahwa nabi Isa as. telah dikandung oleh ibunya tanpa seorang suami. Allah swt. berfirman yang artinya,

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam." (QS. al-Anbiyaa` (21) : 91). Dan hal ini, setelah para malaikat menyampaikan kepada Maryam, "Ia (Jibril) berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam (19) : 19)

Ungkapan yang disebutkan oleh malaikat sebagaimana tersebut di dalam ayat di atas, tidak lain adalah ungkapan pujian; dimana malaikat telah memuji sang anak, sebelum ia diletakkan di dalam rahim ibunya (Maryam), dan ketika sang ibu telah melahirkannya, sang anak dapat berkata kepadanya, "...Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. "Hingga firman Allah, "Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS. Maryam (19) : 24-26) Bahkan, ketika banyak orang datang kepada ibunya untuk membuktikan, benarkah anaknya dapat berbicara, sang anak dapat menceritakan kepada mereka sebagaimana termaktub dalam ayat yang artinya: "Ketika `Isa mendengar perkataaan mereka, Allah lalu menjadikannya dapat berbicara, "Sesungguhnya aku adalah hamba Allah yang akan diberi kitab Injil. Allah akan memilihku menjadi seorang nabi."99

Di dalam perkataannya tersebut, ia menyebutkan, bahwa dirinya adalah hamba Allah, dan Allah telah memberikan kepadanya sebuah kitab suci, yaitu Injil, serta menjadikannya sebagai salah seorang nabi. Bahkan ia pun mengatakan, bahwa Allah swt. akan selalu memberkahinya dimana pun ia berada, dan memerintahkannya untuk melaksanakan shalat, membayar zakat, dan berbakti kepada kedua orang tua, menjauhkannya dari sifat­sifat yang buruk dan tercela, serta akan menyelamatkannya pada waktu kelahiran dan kematian, serta pada hari kebangkitan.

Di dalam al-Qur`an, Allah swt, juga menyebutkan, bahwasanya Dia telah memberikan kepada Isa as. bukti-bukti yang nyata dan mukj izat-mukjizat yang benar akan kenabiannya, yang menguatkan akan kebenaran perkataannya dan yang dapat membuktikan, bahwa dirinya adalah seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. Bahkan di dalam al-Qur`an, Allah swt. juga menyebutkan, bahwasanya Isa as. dapat menciptakan seekor burung dari tanah liat dengan seizin Allah swt., lalu menerbangkannya. Dan ketika burung itu sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan mata manusia, maka Allah swt. pun menjatuhkannya ke bumi dan menjadikannya kembali seperti asalnya. Hal itu agar mereka dapat membedakan antara apa yang diciptakan oleh seorang manusia, dengan apa yang diciptakan oleh Allah swt., Tuhan semesta alam. Di dalam al-Qur`an juga disebutkan, bahwasanya nabi Isa as. dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, dapat menyembuhkan orang yang mengidap penyakit kusta kronis yang sudah sangat sulit untuk disembuhkan, dan dapat menghidupkan orang yang sudah mati dengan seizin Allah swt., serta dapat memberitahukan kepada mereka apa-apa yang disimpan di dalam rumah mereka dari makanan-makanan yang mereka makan atau makanan-makanan yang sengaja mereka simpan. Di dalam al-Quran, Allah swt. juga menjelaskan, bahwa Isa as. membenarkan ajaran-ajaran kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa as., menghalalkan kepada mereka (kaum Yahudi) sebagian perkara-perkara yang sebelumnya diharamkan atas mereka, dan mengabarkan kepada mereka, bahwa Allah swt. senantiasa menguatkan-nya dengan ruhul qudus dan melindunginya dari tipu daya orang-orang Yahudi, serta mengangkat kembali kepada-Nya.

Di dalam hadits Rasulullah saw. juga disebutkan, bahwasanya nabi Isa as. berada di langit, dan akan diturunkan kembali ke bumi pada akhir zaman kelak untuk menerapkan syari'at-syari'at Muhammad saw., hanya saja, nabi Isa as. kelak akan meniadakan jizyah dan tidak menerima agama apa pun selain Islam.100

Dan masih banyak lagi perkara-perkara lainnya, yang disebutkan oleh Allah swt. di dalam al-Qur`an tentang nabi Isa as., seperti; nabi Isa as. adalah salah satu ruh dari ruh-ruh yang telah diciptakan-Nya, bahwa nabi Isa as. adalah kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam, dan bahwa proses penciptaannya adalah sama dengan proses penciptaan Adam as., yang diciptakan oleh Allah swt, dari tanah, kemudian dikatakan kepada tanah itu, "Jadilah", maka jadilah tanah tersebut sebagai seorang manusia. Wallahu A'lam.



99. QS. Maryam 19:30.
100. Hadits ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari (3448) pada kitab, Ahaditsul Anbiya', bab; Nuzulu Isa ibnu Maryam -oloihima solam-. Di riwayatkan juga oleh Imam Muslim, dengan nomor hadits (242), pada kitab, ol-Iman, bab; Nuzulu Isa Ibnu Maryam Hakiman (Turunnya Isa ibnu Maryam sebagai seorang Hakim). (mam Ahmad di dalam kitab Musnadnya (2/240), dan semua-nya diambil dari Abu Hurairah ra. Diriwayatkan juga oleh Abu Daud, dengan nomor hadits (4324), pada kitab, al­Malahim, bab; Khuruzu ad-Dajjal, dari Abu Hurairah ra., dan diriwayatkan juga oleh imam-imam hadits yang lain, seperti imam at-Turmudzi dan Ibnu Majah. Lihat pada halaman 47.

Benarkah saat ini nabi Isa as. berada di surga sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Nashrani?



Jawab:

Di dalam al-Qur`an, Allah swt. telah menyebutkan, bahwa sesungguhnya Dia telah mengangkatnya dari bumi dan membawa Isa as. kepada-Nya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman­Nya yang artinya,

"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, "Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya." (QS. Ali Imran (3) : 55),
dan di dalam firman-Nya yang artinya, "Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. an-Nisaa` (4) : 158)

Nabi Isa as. berada di langit ke dua bersama saudara sepupunya, Yahya ibnu Zakariya. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hastis tentang isra` Rasulullah saw., yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas, di dalam kitab shahihnya. "

"Dan ketika Isa as. telah diangkat ke langit, maka ia pun berubah menjadi seperti para Nabi lainnya, yang telah diangkat terlebih dahulu ke langit oleh Allah swt. "

Rasulullah saw. mendapati mereka ketika Rasulullah melakukan Mi'raj ke semua lapisan langit. Di langit lapis pertama, Rasulullah saw. bertemu dengan nabi Adam. Di langit lapis kedua, Rasulullah saw. bertemu dengan nabi Yahya dan Isa. Di langit lapis ketiga, Rasulullah saw. bertemu nabi Yusuf, di langit lapis keempat, Rasulullah saw. bertemu nabi Idris. Dilangit lapis kelima, Rasulullah saw. bertemu nabi Harun. Di lapis langit keenam, Rasulullah saw. bertemu nabi Musa dan di langit lapis ketujuh, Rasulullah saw. bertemu Ibrahim. Dan nabi-nabi yang lainnya tidak di sebut-sebut. 101

Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya yang berjudul al-fathu al­Bari mengatakan, "yang dimaksud dengan para nabi tersebut ialah arwah mereka karena jasad mereka sudah dikebumikan di dunia. Berbeda dengan Isa yang jasadnya diangkat oleh Allah ke langit.102 Barangkali setelah diangkat ke langit oleh Allah, Isa masih tetap hidup seperti malaikat yang tidak membutuhkan makan, minum dan lain sebagainya. Dan ia juga tidak mengenal usia, kelak jika Isa sudah turun kembali kedunia, ia akan kembali pada kehidupannya sebelum diangkat ke langit. Artinya, Isa seperti manusia alinnya yang butuh makan, minum dan lain sebagainya. Mengenai ucapan orang-orang Nasrani, bahwa Isa ada di suraga adalah bohong. Bedasarkan apa yang telah di kemukakan dalam riwayat hadits shahih tadi dan juga hadits-hadits lainnya yang menyatakan bahwa, Isa berada di langit kedua. Padahal kita mengetahui bahwasanya surga itu berada di puncak iliyyin, yaitu di atas langit lapis ketujuh. Wallahu a'lam.



101. Diriwayatkan Bukhari, no. 349, kitab Shalat, Bab "Bagaimana shalat difardhukan pada malam Isra"', Hadits dari Anas bin Malik ra. Diriwayatkan Muslim no. 259, Kitab Iman, Bab " Isra Rasulullah saw.ke langit dan diwajibkannyua shalat".Hadits dari Anas bi Malik ra. Diriwayatkan Ahmad dalam al-Musnad, III/148,14 9, hadits dari Anas bi Malik ra.
Di sini harus ditegaskan bahwa riwayat-riwayat yagn menyebutkan tentang tempat masing-masing nabi di (angit satu dengan yang lain tidak sama. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al Fatawa IV/328 menuturkan, bahwa para nabi yang dilihat Rasulullah saw. pada malam mi'arj adalah arwah mereka yagn dijelmakan secara fisik.
102. Isa putera Maryam masih hidup dan belum meninggal dunia. la juga tidak pernah dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Yang mereka bunuh itu adalah orang yagn diserupakan dengan Isa, setelah jiwa dan raga Isa sendiri diangkat ke langit oleh Allah. Sekarang al-Masih masih berada di langit. Lihat Fatawa al-Lajnah ad Da'imah bi al Mamlakah al-Arabiyah al-Sa'udiyah, III/222
Apakah keimanan kepada Isa as. cukup untuk menyelamatkan seseorang dari siksa api neraka dan mendapatkan ridha Allah serta surga-Nya?

Jawab:

Beriman kepada nabi Isa as, adalah salah satu bagian dari rukun-rukun iman yang enam, yaitu; beriman kepada Allah swt., beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab­ kitab-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya, dan seterus-nya. Beriman kepada nabi Isa as. adalah bagian dari beriman kepada rasul-rasul-Nya. Karena Isa as. adalah salah satu rasul Allah yang telah diutus-Nya.

Di samping itu, setiap kaum muslimin juga diwajibkan untuk beriman kepada segala sesuatu yang disebutkan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah; baik itu yang disebutkan secara global mapun yang disebutkan secara terperinci. Karena itu pula, kita pun diwajibkan untuk beriman terhadap segala sesuatu yang disebutkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai nabi Isa as., dan di antaranya, bahwa nabi Isa as. diciptakan dengan kalimat Allah, bahwa nabi Isa as. adalah salah satu ruh dari ruh­ruh yang diciptakan-Nya, bahwa Allah swt. menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang sebagiannya ada disebutkan di dalam al­ Qur`an.

Begitu pula halnya dengan berita-berita yang disebutkan di dalam hadits-hadits mengenai nabi Isa as., di antaranya adalah hadits Ubadah yang diriwayatkan secara marfu', "Bahwa Isa as. adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari-Nya."103

Apabila beriman kepada nabi Isa as. dan risalahnya merupakah salah satu bagian dari rukun iman, maka tidaklah cukup dengan hanya beriman kepadanya. tanpa memperhatikan rukun­rukun iman yang enam lainnya, serta rukun-rukun Islam dan hukum­hukum syari'at yang lainnya, untuk mendapatkan ridha Allah dan mendapat-kan surga-Nya serta selamat dari siksa api neraka-Nya. Sebab, hal itu hanya akan bisa didapatkan dengan keimanan yang sempurna dan pelaksanaan hukum-hukum syari'at dengan baik dan benar, serta benar-benar mempercayai para rasul secara keseluruhan, meyakini segala sesuatu yang dikisahkan oleh Allah swt. di dalam at-Qur`an, beriman dengan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, serta mengiringi semua itu dengan senantiasa mengerjakan amal shalih serta meninggalkan perbuatan musyrik, bid'ah, dan yang diharamkan. Wallahu A'lam.




103 Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan nomor hadits (3435), di dalam kitab, Ahaditsul Anbiyaa`, bab; "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Atlah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari­Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasuf-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:"(Ilah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Aflah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. an-Nisaa` (4):171), dari Ubadah-radhiallahu `anhu-, dan hadits ini merupakan bagian dari hadits Rasulullah saw., "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, serta Isa adalah hamba, rasul-Nya, dan kalimat-Nya,...dan seterusnya." Diriwayatkan juga oleh iam Muslim dengan nomor hadits (28), di dalam kitab "Dalil `alo Man Mata `alo at-Tauhiid", dan Ahmad di dalam kitab Musnad (5/ 313) dari Ubadah ibnu Shamit -radhiallahu `anhu-.
Apakah keimanan kepada Isa as. cukup untuk menyelamatkan seseorang dari siksa api neraka dan mendapatkan ridha Allah serta surga-Nya?

Jawab:

Beriman kepada nabi Isa as, adalah salah satu bagian dari rukun-rukun iman yang enam, yaitu; beriman kepada Allah swt., beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab­ kitab-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya, dan seterus-nya. Beriman kepada nabi Isa as. adalah bagian dari beriman kepada rasul-rasul-Nya. Karena Isa as. adalah salah satu rasul Allah yang telah diutus-Nya.

Di samping itu, setiap kaum muslimin juga diwajibkan untuk beriman kepada segala sesuatu yang disebutkan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah; baik itu yang disebutkan secara global mapun yang disebutkan secara terperinci. Karena itu pula, kita pun diwajibkan untuk beriman terhadap segala sesuatu yang disebutkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai nabi Isa as., dan di antaranya, bahwa nabi Isa as. diciptakan dengan kalimat Allah, bahwa nabi Isa as. adalah salah satu ruh dari ruh­ruh yang diciptakan-Nya, bahwa Allah swt. menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang sebagiannya ada disebutkan di dalam al­ Qur`an.

Begitu pula halnya dengan berita-berita yang disebutkan di dalam hadits-hadits mengenai nabi Isa as., di antaranya adalah hadits Ubadah yang diriwayatkan secara marfu', "Bahwa Isa as. adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari-Nya."103

Apabila beriman kepada nabi Isa as. dan risalahnya merupakah salah satu bagian dari rukun iman, maka tidaklah cukup dengan hanya beriman kepadanya. tanpa memperhatikan rukun­rukun iman yang enam lainnya, serta rukun-rukun Islam dan hukum­hukum syari'at yang lainnya, untuk mendapatkan ridha Allah dan mendapat-kan surga-Nya serta selamat dari siksa api neraka-Nya. Sebab, hal itu hanya akan bisa didapatkan dengan keimanan yang sempurna dan pelaksanaan hukum-hukum syari'at dengan baik dan benar, serta benar-benar mempercayai para rasul secara keseluruhan, meyakini segala sesuatu yang dikisahkan oleh Allah swt. di dalam at-Qur`an, beriman dengan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, serta mengiringi semua itu dengan senantiasa mengerjakan amal shalih serta meninggalkan perbuatan musyrik, bid'ah, dan yang diharamkan. Wallahu A'lam.




103 Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan nomor hadits (3435), di dalam kitab, Ahaditsul Anbiyaa`, bab; "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Atlah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari­Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasuf-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:"(Ilah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Aflah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. an-Nisaa` (4):171), dari Ubadah-radhiallahu `anhu-, dan hadits ini merupakan bagian dari hadits Rasulullah saw., "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, serta Isa adalah hamba, rasul-Nya, dan kalimat-Nya,...dan seterusnya." Diriwayatkan juga oleh iam Muslim dengan nomor hadits (28), di dalam kitab "Dalil `alo Man Mata `alo at-Tauhiid", dan Ahmad di dalam kitab Musnad (5/ 313) dari Ubadah ibnu Shamit -radhiallahu `anhu-.

keimanan kepada Isa as.

Apakah keimanan kepada Isa as. cukup untuk menyelamatkan seseorang dari siksa api neraka dan mendapatkan ridha Allah serta surga-Nya?

Jawab:

Beriman kepada nabi Isa as, adalah salah satu bagian dari rukun-rukun iman yang enam, yaitu; beriman kepada Allah swt., beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab­ kitab-Nya, beriman kepada rasul-rasul-Nya, dan seterus-nya. Beriman kepada nabi Isa as. adalah bagian dari beriman kepada rasul-rasul-Nya. Karena Isa as. adalah salah satu rasul Allah yang telah diutus-Nya.

Di samping itu, setiap kaum muslimin juga diwajibkan untuk beriman kepada segala sesuatu yang disebutkan di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah; baik itu yang disebutkan secara global mapun yang disebutkan secara terperinci. Karena itu pula, kita pun diwajibkan untuk beriman terhadap segala sesuatu yang disebutkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah mengenai nabi Isa as., dan di antaranya, bahwa nabi Isa as. diciptakan dengan kalimat Allah, bahwa nabi Isa as. adalah salah satu ruh dari ruh­ruh yang diciptakan-Nya, bahwa Allah swt. menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang sebagiannya ada disebutkan di dalam al­ Qur`an.

Begitu pula halnya dengan berita-berita yang disebutkan di dalam hadits-hadits mengenai nabi Isa as., di antaranya adalah hadits Ubadah yang diriwayatkan secara marfu', "Bahwa Isa as. adalah hamba Allah dan rasul-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan ruh dari-Nya."103

Apabila beriman kepada nabi Isa as. dan risalahnya merupakah salah satu bagian dari rukun iman, maka tidaklah cukup dengan hanya beriman kepadanya. tanpa memperhatikan rukun­rukun iman yang enam lainnya, serta rukun-rukun Islam dan hukum­hukum syari'at yang lainnya, untuk mendapatkan ridha Allah dan mendapat-kan surga-Nya serta selamat dari siksa api neraka-Nya. Sebab, hal itu hanya akan bisa didapatkan dengan keimanan yang sempurna dan pelaksanaan hukum-hukum syari'at dengan baik dan benar, serta benar-benar mempercayai para rasul secara keseluruhan, meyakini segala sesuatu yang dikisahkan oleh Allah swt. di dalam at-Qur`an, beriman dengan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, serta mengiringi semua itu dengan senantiasa mengerjakan amal shalih serta meninggalkan perbuatan musyrik, bid'ah, dan yang diharamkan. Wallahu A'lam.




103 Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan nomor hadits (3435), di dalam kitab, Ahaditsul Anbiyaa`, bab; "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Atlah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari­Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasuf-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:"(Ilah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Aflah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. an-Nisaa` (4):171), dari Ubadah-radhiallahu `anhu-, dan hadits ini merupakan bagian dari hadits Rasulullah saw., "Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, serta Isa adalah hamba, rasul-Nya, dan kalimat-Nya,...dan seterusnya." Diriwayatkan juga oleh iam Muslim dengan nomor hadits (28), di dalam kitab "Dalil `alo Man Mata `alo at-Tauhiid", dan Ahmad di dalam kitab Musnad (5/ 313) dari Ubadah ibnu Shamit -radhiallahu `anhu-.

masa dakwah nabi Isa as. sebelum Allah mengangkatnya ke langit

Berapa lamakah masa dakwah nabi Isa as. sebelum Allah mengangkatnya ke langit?

Jawab:

Menurut pendapat yang termasyhur adalah, bahwa Isa as. diangkat ke langit ketika usianya telah menginjak tiga puluh tiga tahun. Hal ini, sebagaimana yang disebutkan oleh imam Ibnu Katsir 104, ketika beliau menjelaskan tentang sifat-sifat nabi Isa as., di dalam menafsirkan firman Allah,
"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. "
(QS. an-Nisaa' (4):159).

Di mana di dalam menafsirkan ayat tersebut, imam Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa di dalam hadits yang disampaikan oleh Abdurrahman ibnu Adam, dari Abu Hurairah ra. disebutkan bahwasanya nabi Allah Isa as. akan menetap di bumi selama empat puluh tahun. Kemudian Isa as. akan meninggal dunia dan akan dishalatkan oleh kaum muslimin. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Jarir, saat beliau menafsirkan ayat di atas, 105

Sedangkan di dalam hadits Abdullah ibnu `Amru yang diriwayatkan oleh imam Muslim disebutkan, bahwa nabi Isa as. akan menetap di bumi selama tujuh tahun.106 Atas dasar inilah, maka imam Ibnu Katsir pun berkata107 , "Dengan demikian, maka bisa jadi -wallahu a'lam- bahwa, yang dimaksud dengan menetapnya nabi Isa as. di bumi selama empat puluh tahun adalah, jumlah keseluruhan dari masa tinggal beliau di bumi, baik itu sebelum masa diangkatnya ke langit maupun sesudah masa diangkatnya ke langit. Sebab, usia nabi Isa as. ketika diangkat ke langit, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits-hadits shahih adalah, tiga puluh tiga tahun. Penjelasan tentang usia nabi Isa as. saat diangkat ke langit tersebut, disebutkan di dalam hadits-hadits tentang sifat-sifat penduduk surga; dimana di dalam hadits-hadits tersebut disebutkan, bahwa bentuk-bentuk mereka sama seperti nabi Adam as., bahwa umur nabi Isa as. saat diangkat ke langit adalah, tiga puluh tiga tahun, dan seterusnya."

Demikian juga dengan yang disebutkan oleh imam Ibnu Katsir di dalam kitab an-Nihayah 108 Dimana'pada akhir kitab tersebut (1/125), Ibnu Katsir menyebutkan riwayat yang menyatakan, bahwa usia nabi Isa as. di bumi selama empat puluh tahun dan menyebut­kan juga riwayat yang menyatakan, bahwa usia nabi Isa as di bumi selama tujuh tahun. Kemudian beliau berkata, "Apabila kita hanya melihat sekilas, maka keberadaan kedua hadits yang berbeda tersebut akan menimbulkan permasalahan, padahal bisa jadi, hadits yang menyatakan, bahwa masa nabi Isa as. di bumi hanya selama tujuh tahun adalah, hadits yang menjelaskan tentang masa tinggalnya di bumi setelah diturunkan dari langit, dan hadits yang menyatakan bahwa masa nabi Isa as. di bumi selama empat puluh tahun adalah, hadits yang menjelaskan tentang masa tinggalnya di bumi sebelum diangkat ke langit, yang ditambahkan dengan masa tinggalnya di bumi setelah diturunkan dari langit. Dengan demikian maka benarlah, bahwa masa tinggal Isa as. di bumi adalah empat puluh tahun, sebab saat diangkat ke langit, usia Isa telah mencapai tiga puluh tiga tahun. Demikianlah menurut pendapat yang termasyhur.109  Wallahu A'lam.


104. Lihat; Tafsirlbnu Katsir, surat an-Nisa` (1/496)
105. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, (2/406, 437), dan imam Abu Daud, dengan nomor hadits (4324), di dalam kitab, al-Malahim, bab; Khuruju ad-Dajjal (Keluamya Dajjal), dari Abu Hurairah ra.
Sedang Ibnu Jarir meriwayatkan hadits ini dengan nomor (10835), ketika Ibnu Jarir menfsirkan firman Allah, "Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuatt akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka." (QS. an-Nisa' (4) : 159)
106. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan nomor hadits (2940) di dalam kitab, al-Fitan wa Asyrathu as-Sa'ah, bab; Fi Khuruju ad-Dajjal wa Maktsuhu fil Ardhi (Keluarnya Dajjal dan Masa Berdiamnya di Bumi), dari Abdullah ibnu Amru -radhiallahu `anhuma.
107. Lihat; Tafsir Ibnu Katsir, surat an-Nisaa` (1/501)
108. Lihat; al-Bidayah wa an-Nihayah, karangan Ibnu Katsir.
109. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata di dalam kitabnya al-Fath, "Para ulama berbeda pendapat tentang umur nabi Isa as., saat beliau diangkat ke langit. Ada yang mengatakan bahwa usia beliau saat diangkat ke langit adalah tiga puluh tiga tahun, dan ada juga yang mengatakan bahwa usia beliau saat diangkat ke langit adalah seratus dua puluh tahun.
Kerancuan Trinitas 
Di dalam al-Qur'an, Allah swt. berfirman yang artinya, "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Al­lah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, "(AIlah itu) tiga'; berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. "(QS. an-Nisaa' 4:171). Sebagian umat Nashrani mengatakan, bahwa ayat di atas menguatkan akan apa yang selama ini kami yakini, yaitu bahwa Isa as. adalah trinitas (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Bagaimanakah jawaban yang syar'i untuk pertanyaan nyeleneh seperti ini?

Jawab:

Pernyataan seperti itu adalah pernyataan yang tidak benar, bahkan sama sekali tidak memiliki dasar. Sebab, tidak terdapat satu ayat pun di dalam al-Qur`an yang menunjukkan akan kebenaran pernyataan mereka tersebut, baik secara zhahir maupun secara batin. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. justru menamakannya dengan nama makhluk, yaitu Isa, bahkan kemudian enasabkan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana kebanyakan orang menasabkan anak-anak mereka kepada ayahnya. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. pun telah secara jelas menyatakan, bahwa Isa as. adalah rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya kepada bani Israil. Untuk tujuan itulah kemudian Allah swt. pun memuliakannya dengan menyebutnya sebagai kalimatullah, atau ciptaan yang diciptakaan-Nya dengan kalimat "Kun (Jadi)", sebagaimana Allah swt. menciptakan Adam dengan kalimat tersebut, tanpa melalui seorang ayah dan ibu. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. juga telah secara jelas menyatakan, bahwa nabi Isa as. adalah satu ruh dari ruh-ruh yang telah diciptakan oleh Allah swt.

Di dalam ayat di atas, jelas terlihat, bahwa Allah swt. memberikan kepada nabi Isa as. tiga buah nama dan tiga buah sifat; dimana setiap nama dan sifat tersebut membatalkan pernyataan-pernyataan nyeleneh umat Nashrani. Penyebutan nabi Isa as. dengan ibnu Maryam di dalam ayat di atas, jelas menunjukkan, bahwa klaim urriat Nashrani yang mengatakan, bahwa nabi Isa as. adalah anak tuhan, tidaklah benar. Sebab, Tuhan sendiri telah menasabkannya kepada ibunya. Kemudian, Allah swt. juga menyebutkannya sebagai rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya, sebagaimana para rasul yang lain, yang juga diutuskan kepada manusia untuk menjelaskan kepada mereka akan syari'at­syari'at-Nya, serta mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya. Allah swt. juga menyebutkannya sebagai kalimatullah yang dihembuskan oleh Jibril ke dalam rahim ibunya, dan menyebutkannya juga sebagai ruh dari-Nya.

Seluruh sebutan-sebutan tersebut tidak lain adalah pemuliaan yang diberikan Allah swt. kepadanya, sebab dirinya tidak lain adalah ruh dari ciptaan Allah swt.

Sedangkan kalimat ruhul kudus yang terdapat di dalam ayat, "Dan sesungguh-nya Kami telah mendatangkan al-Kttab (Taurat) epada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87).

Maksudnya adalah Jibril as. yaitu malaikat yang menyampaikan wahyu dari Allah swt. kepada para rasul-Nya, dan Jibril as. sendiri adalah makhluk Allah swt. sebagaimana malaikat­malaikat-Nya yang lain. Wallahu A'lam